Kamis, 26 Januari 2012

Membahagiakan Rakyat

Menurut penelitian uang dapat membeli kebahagiaan. Demikian saya kutip dari National Geographic versi mobile [http://m.nationalgeographic.co.id/lihat/berita/2647/peneliti-uang-dapat-membeli-kebahagiaan]. Berikut ini saya kutipkan artikel selengkapnya.


Perdebatan lama tentang uang dan kebahagiaan telah usai. Penelitian terbaru mengatakan bahwa uang memang bisa membeli kebahagiaan. Hal ini dikarenakan uang adalah faktor yang paling penting dalam membuat orang merasa dibutuhkan, menurut lusinan penelitian tentang uang dan kebahagiaan. 

Bahkan peneliti memberikan simpulan berdasarkan analisis data dari 126 negara di seluruh dunia. Penelitian oleh Institute of Economic Affairs, Inggris, menunjukkan tingkat kebahagiaan berbanding lurus dengan kekayaan seseorang. 

Kenaikan 20 persen dalam pendapat memiliki dampak yang sama pada kesejahteraan, terlepas dari jumlah awal kekayaan orang tersebut. Temuan ini bertentangan dengan keyakinan masyarakat luas bahwa dengan uang yang banyak belum tentu bisa mendapatkan kebahagiaan.

"Tidak ada negara yang cukup kaya untuk memiliki titik tertinggi dari kepuasan. Dengan jumlah data yang sangat banyak, penemuan ini sangat kuat. Jika individu lebih kaya, maka lebih bahagia-lah hidupnya," jelas para peneliti. 

Hasil penelitian ini berlaku di negara manapun, bahwa hubungan antara pendapatan dan kepuasan sangat mirip. Selain itu, kesejahteraan di tempat kerja melalui regulasi cenderung kontra-produktif jika pengangguran kerja ternyata meningkat. 

Ada hubungan kuat antara pengangguran dan hilangnya kesejahteraan. Secara umum, pemerintah menyebabkan lebih banyak kerugian dalam kesejahteraan. Satu penelitian menyebutkan bahwa, jika pemerintah meningkatkan dana belanja mereka hingga sepertiga, maka dapat mengurangi tingkat kebahagiaan lima hingga enam persen.

Demikian kutipan saya dari National Geographic versi mobile. Teori ekonomi makro biososioekonomi yang saya rumuskan tidak mensyaratkan pertumbuhan PDB. Kelemahan konsep PDB dan pertumbuhan PDB sudah sering saya tulis di blog ini bahkan termasuk dalam 10 artikel terpopuler. Biososioekonomi menyarankan suatu ukuran yang disebut PIT atau persentase individu atau rumah tangga yang asetnya meningkat. Semakin tinggi persentasenya (mendekati 100%) maka semakin baiklah perekonomian. PIT 100% berarti semua orang atau rumah tangga semakin kaya. Itulah salah satu ukuran yang dipakai teori ekonomi makro biososioekonomi. Biososioekonomi tidak mengejar pertumbuhan PDB tetapi mengupayakan agar PIT mendekati 100%.

Dengan demikian aplikasi dan implementasi teori ekonomi makro biososioekonomi turut mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan rakyat. Oleh karena itu saya mohon artikel saya mengenai teori ekonomi makro biososioekonomi yang saya (Hani Putranto) rumuskan disebarluaskan melalui berbagai media apakah fb, twitter, sms, messenger dan lain-lain karena masih banyak orang yang belum mengenal teori ekonomi makro biososioekonomi. Atas bantuannya saya ucapkan terima kasih, rakyat juga akan berterima kasih pada Anda.



Kamis, 19 Januari 2012

Indikator Keberhasilan Revolusi (Pemikiran)

Kesengsaraan rakyat membuat beberapa pihak mencetuskan perlunya revolusi. Bagi saya pribadi revolusi memang diperlukan akan tetapi harus berjalan dengan damai. Untuk itu suatu revolusi seharusnya didahului revolusi pemikiran. Revolusi pemikiran harus menjadi pencerah jalannya revolusi damai. Menurut hemat saya teori ekonomi makro biososioekonomi adalah sebuah teori ekonomi yang revolusioner karena tidak menuntut pertumbuhan PDB. 

Untuk mengawasi jalannya revolusi damai kita perlu suatu indikator keberhasilan revolusi agar suatu revolusi tidak membuka peluang berkuasanya petualang politik atau politikus busuk. Suatu indikator sederhana seharusnya bisa menjadi pedoman banyak orang untuk mengawasi jalannya revolusi damai agar tidak diselelewengkan. 

Berikut ini saya usulkan beberapa indikator keberhasilan revolusi.

Indikator utama keberhasilan revolusi adalah bila ekonom sudah tidak lagi mengejar pertumbuhan PDB (produk domestik bruto).

Indikator kedua keberhasilan revolusi adalah bila ekonom telah bekerja keras mengurangi liabilitas publik dan meningkatkan aset publik sehingga aset publik sama dengan liabilitasnya. Menurut teori ekonomi makro semua aset pribadi adalah liabilitas bagi publik.

Indikator ketiga keberhasilan revolusi adalah bila ekonom telah bekerja keras untuk meningkatkan pendapatan publik yang selain digunakan untuk meningkatkan aset publik juga dipakai untuk membayar jaminan sosial besar-besaran. Jaminan sosial yang dimaksud adalah untuk kesehatan, pendidikan, food stamps atau ketahanan pangan dan jaminan lansia. Dengan jaminan sosial besar-besaran ini akan meningkatkan daya beli rakyat secara signifikan. Dalam paradigma biososioekonomi semua anak seharusnya mendapat paket beasiswa sampai dengan S1. Suatu cash transfer kepada penduduk non usia produktif seperti usia sekolah dan lansia adalah suatu tindakan yang wajar dan tidak bertentangan dengan keadilan dalam arti tidak membuat orang malas bekerja. Pendapatan publik yang dimaksud di sini berasal dari pajak, derma, dan daur ulang kekayaan pribadi. Tidak termasuk pajak yang berasal atau membebani konsumen seperti cukai dan PPN.

Demikian semoga dimengerti dan dipahami.




Kamis, 12 Januari 2012

Tahun 2012. Mari Mendemokrasikan Ekonomi dengan Biososioekonomi

Hampir dua minggu kita menjalani hidup di tahun 2012 dengan kesibukan kita masing-masing. Hari ini akan ada demonstrasi besar mengkritik pemerintahan SBY-Boediono. Kehidupan rakyat memang tidak membaik. Pemerintah memang tidak benar-benar pro rakyat. Mereka masih bersikukuh pada paradigma neolibnya.

Perjuangan untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat seharusnya bukan hanya monopoli aktivis politik. Kita semua terpanggil untuk mewujudkan kesejahteraan umum dengan kapasitas dan jabatan kita masing-masing. Demokrasi ekonomi dengan biososioekonomi adalah jalan mewujudkan kesejahteraan publik, kesejahteraan rakyat. Implementasi teori ekonomi makro biososioekonomi akan mengurangi liabilitas publik, meningkatkan aset publik (yang berarti memperkuat fundamental makro ekonomi) dan memperkuat daya beli rakyat.

Perjuangan mengganti teori ekonomi konvensional yang neolib dengan teori ekonomi makro biososioekonomi adalah adalah perjuangan yang harus dilakukan kapan saja ada atau tidak ada pergantian pemerintahan. Kita semua dituntut berpartisipasi untuk mendemokrasikan ekonomi tersebut dengan kapasitas dan jabatan kita masing-masing.

Memang kita disibukkan oleh rutinitas kita mencari nafkah atau mengurus rumah tangga. Saya pun juga sibuk dengan rutinitas saya mencari nafkah. Namun disela rutinitas itu kita seharusnya bisa berperan dan berpartisipasi mendemokrasikan ekonomi dengan cara membaca dan menyebarluaskan blog ini kepada teman melalui SMS, messenger misal BBM, atau internet. Idealnya memang setiap orang memahami demokrasi ekonomi dengan biososioekonominya. Blog ini memberi penjelasan tentang itu. Namun bagi yang kurang terbiasa membaca tulisan panjang,  bisa mengikuti akun twitter saya @haniputranto.

Perlu juga diketahui bahwa sampai saat ini  saya TIDAK membuat akun facebook atau twitter dengan id atau username satrio piningit. Dalam kedua situs jejaring sosial itu saya menggunakan nama Hani Putranto. Situs dengan nama satrio piningit yang saya buat hanya blog ini dan situs mobile saya  http://www.satriopiningitasli.param.mobi

Sebagaimana karya anak bangsa yang lain,  teori ekonomi makro biososioekonomi belum dikenal banyak orang. Mobil Esemka pun baru dikenal setelah dijadikan mobil dinas wali kota Solo. Maka saya berharap agar Anda ikut berpartisipasi menyebarluaskan dan mempromosikan teori ekonomi makro biososioekonomi karena biososioekonomi berarti demokrasi ekonomi. Demokrasi ekonomi adalah kepentingan umum, kepentingan rakyat kebanyakan. Jadi, menyangkut hajat hidup orang banyak. Revolusi tanpa revolusi pemikiran hanya akan menguntungkan petualang politik, kaum oportunis, dan politikus busuk. Biososioekonomi adalah sebuah revolusi pemikiran. Dan indikasi keberhasilan revolusi pemikiran itu adalah kalau para ekonom sudah tidak lagi mengejar pertumbuhan PDB.

Saya selalu berdoa bagi Anda yang menyebarluaskan biososioekonomi dan blog ini agar Anda beserta keluarga Anda terhindar dari tulah atau hukuman TUHAN yang akan dijatuhkan ke bumi. Mari mendemokrasikan ekonomi dengan biososioekonomi. Ganti paradigma neolib itu. Semoga TUHAN memberkati kita. TUHAN sendiri yang akan menyempurnakan usaha kita yang kita tekuni melalui jalan damai dan konstitusional.

Artikel terkait

http://www.satriopiningitasli.com/2011/12/krisis-global-baca-dulu-baru-kritik.html

http://www.satriopiningitasli.com/2011/07/anti-demokrasi-ekonomi-dalam.html

http://www.satriopiningitasli.com/2010/11/tiga-alasan-mengapa-biososioekonomi.html

http://www.satriopiningitasli.com/2010/06/demokrasi-ekonomi-biososioekonomi-lebih.html

http://www.ekonomikerakyatan.ugm.ac.id/My%20Web/sembul22.htm

Jumat, 06 Januari 2012

Menyambut 2012"...Kiamat Besar Masih 1.000 Tahun Lagi"

Karena lelah memperjuangkan penerbitan naskah buku saya sepanjang tahun 2003 maka saya menulis suatu surat keprihatinan. Di dalam  surat keprihatinan yang saya tulis sekitar 21 November 2003 itu, saya antara lain menulis bahwa "kalau rencana TUHAN tidak berubah, kiamat besar baru terjadi lebih dari 1.000 tahun lagi". Sebelum hari-hari dahsyat di berbagai belahan dunia karena tsunami, gempa, gunung meletus, dan badai itu saya sudah mengingatkan bahwa itu bukan kiamat besar. Masih ada kehidupan di bumi setelah itu. 

Menurut saya pribadi isu kiamat sudah dekat itu merupakan suatu isu yang selain tidak benar juga kontra produktif. Akibat isu kiamat sudah dekat maka tidak sedikit tindakan negatif yang sering dilakukan orang antara lain tindakan mengkonversi atau mengubah keyakinan (agama) orang lain secara over acting atau radikal. Selain itu juga tindakan dan sikap negatif terhadap pengentasan kemiskinan dan pelestarian lingkungan hidup. Kalau kiamat sudah dekat ngapain capek-capek mengentaskan kemiskinan dan menjaga kelestarian lingkungan hidup? Itulah sikap dan tindakan negatif akibat isu kiamat sudah dekat.

Surat keprihatinan saya tahun 2003 itu memang tidak untuk konsumsi publik, tidak di posting di blog ini. Saya pernah menyinggung di blog ini di tahun 2009 pada postingan yang berjudul Tiga Gempa Pasca Satu Suro . Kalau pun toh ada hari atau hari-hari dahsyat dalam 1.000 tahun ini, menurut pendapat saya pribadi itu bukan kiamat besar tetapi peralihan jaman menuju jaman keemasan. Hidup di dunia memang sementara tetapi kiamat besar belum akan terjadi dalam waktu dekat kalau rencana TUHAN tidak berubah. Masih ada kehidupan di bumi setelah itu artinya program pengentasan kemiskinan masih harus dilanjutkan, lingkungan hidup masih perlu dijaga, pertumbuhan populasi penduduk harus dikendalikan, kesejahteraan dan kepentingan umum masih harus ditegakkan. 

Postingan pendek awal tahun 2012 ini sekedar mengingatkan berbagai artikel yang pernah saya tulis. Semoga bermanfaat.

Artikel Terkait


Jumat, 30 Desember 2011

Refleksi Akhir Tahun. Subyektif atau Obyektif.

Beberapa tahun yang lalu seorang pastor muda, dalam kotbahnya, mengkritik sikap atau komentar miring seorang umat. Umat yang dikritik itu bersikap tidak baik atau berkomentar negatif terhadap umat lain yang mendermakan hartanya sangat banyak. Umat yang dikritik pastor itu menyangka umat yang dermawan itu memperoleh harta dari korupsi.

Komentar miring umat itu boleh jadi obyektif tapi mungkin juga subyektif. Subyektif dan obyektif inilah yang saya jadikan bahan refleksi akhir tahun ini karena banyak kebijakan, pendapat, komentar, atau postingan di sekeliling kita yang menuntut kita mencermatinya apakah subyektif atau obyektif.

Akhir tahun seperti ini banyak ekonom yang menargetkan berapa pertumbuhan PDB tahun depan. Demikian juga krisis hutang di sebagian negara Uni Eropa diatasi dengan penghematan pengeluaran pemerintah termasuk pengurangan pengeluaran untuk tunjangan sosial.  Apakah tindakan seperti ini sudah obyektif atau subyektif sesuai selera dan perasaan subyek yang belum tentu rasional. Kenapa krisis hutang atau krisis ekonomi diatasi dengan penghematan? Kenapa tidak diatasi dengan meningkatkan pemasukan publik atau mengurangi liabilitas publik? Demikian juga apa gunanya pertumbuhan PDB ditargetkan? 

Mungkin masih banyak hal lain yang perlu kita pertanyakan obyektivitasnya berkaitan dengan ekonomi publik atau makro dan kesejahteraan rakyat, namun contoh-contoh di atas seharusnya memicu kita untuk merefleksikannya akhir tahun ini agar tahun depan bisa melangkah lebih baik dan tercerahkan.

Obyektivitas menuntut verifikasi atau cross check pihak lain yang jujur, berintegritas, dan memiliki kompetensi, serta bersifat sebagai open society yang percaya pada kebebasan, akal, dan persaudaraan sejati. Mungkin tidak mudah tetapi bukan berarti tidak bisa. Salah satu sikap open society adalah kerendahhatiannya bahwa kita mungkin keliru tapi dengan suatu upaya mungkin kita bisa menemukan kebenaran.

Di tengah keraguan antara subyektif dan obyektif itu saya berpendapat bahwa teori ekonomi makro biososioekonomi menawarkan pengetahuan yang obyektif bagi pengelolaan makro ekonomi yang pro rakyat dan pro keseimbangan ekologis. Pendapat saya ini mungkin subyektif tapi bisa jadi juga obyektif. Tetapi seperti sering saya kemukakan sebagai teori ilmiah biososioekonomi terbuka terhadap cross check, kritik, dan perbaikan. Dalam merumuskannya saya sudah mendekatkan diri dengan kebenaran dengan mempertimbangkan hukum alam mengenai keseimbangan (akuntansi), hukum alam mengenai kelangkaan(ekonomi)  dan hukum II Termodinamika.

Kembali pada contoh-contoh di atas. Sikap pastor muda yang mengkritik umat di atas sudah tepat, pastor itu cukup sigap untuk mengkritik yang keliru. 
 
Menghemat pengeluaran pemerintah dalam mengatasi krisis sangat tidak tepat karena yang tepat adalah meningkatkan pemasukan publik dan mengurangi liabilitas publik. Investasi yang berjalan ratusan tahun atau bahkan ribuan tahun telah membuat liabilitas publik jauh lebih tinggi dari asetnya. Mengatasi krisis tanpa mengurangi liabilitas publik adalah omong kosong, sebuah tindakan yang sia-sia.

Postingan sederhana ini saya tempatkan sebagai bagian dari open society yang terbuka terhadap kritik dan koreksi untuk menghasilkan kebenaran obyektif. Selamat tahun baru 1 Januari 2012, semoga di tahun 2012 kita bisa lebih obyektif sehingga dekat dengan kebenaran dan turut berpartisipasi mewujudkan kesejahteraan publik, kesejahteraan bersama, kesejahteraan rakyat kebanyakan.

Minggu, 25 Desember 2011

Selamat Natal 25 Desember 2011

 Saya mengucapkan selamat Natal 25 Desember 2011. Semoga kehadiran TUHAN menguatkan kita untuk berbuat baik dan mengasihi sesama. GBU

Kamis, 22 Desember 2011

Refleksi Natal. Menerima Yesus Berarti Turut Mewujudkan Kesejahteraan Umum

Peristiwa kelahiran Kristus sekitar 2.000 tahun yang lalu menjadi bahan refleksi yang menarik bahwa di tengah kabar suka cita dari malaikat, kisah kelahiran itu juga diwarnai keprihatinan karena Kristus Sang Juru Selamat yang kedatangan-Nya adalah hadiah besar bagi seluruh umat manusia ternyata  tidak mendapatkan tempat di penginapan.

Bagi umat Kristiani kisah kelahiran Yesus Kristus sudah bukan hal asing lagi. Ia lahir di Betlehem ketika Yusuf dan bunda Maria pergi dari Nazaret ke kota asalnya di Betlehem, kota Raja Daud, untuk disensus mengikuti perintah Kaisar Agustus. Namun karena tidak mendapatkan tempat di penginapan Bayi Yesus pun lahir di kandang (Lukas 2:7 dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan). Kabar kelahiran Kristus itu sendiri diterima dari malaikat oleh para gembala penjaga ternak sebagaimana ditulis Lukas 2:10-12  Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa. Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan."). Malaikat itu tidak menyampaikan kabar bohong kepada para gembala karena terbukti para gembala bisa menemukan Bayi Yesus dalam palungan (Lukas 2:16).

Hari Raya Natal yang akan dirayakan sebentar lagi merupakan perayaan akan kelahiran itu. Sebelum Natal, umat Kristiani khususnya Katolik mempersiapkan diri dengan beribadah dan mendengarkan sabda Tuhan selama masa Adven yang berlangsung 4 minggu. Selama 4 minggu itu kaum rohaniwan mempersiapkan umat untuk menerima kedatangan Kristus.

Natal tahun ini berada di tengah kondisi perekonomian yang tidak menentu. Krisis hutang melanda negara-negara Eropa, AS juga belum pulih benar dari krisis 2008. Sementara itu kemiskinan dan pengangguran masih tinggi di berbagai negara. Apakah Natal di Eropa tahun ini akan menjadi Natal yang murung karena krisis dan PHK (pemutusan hubungan kerja) menimpa sebagian warga Eropa?
 
Kejadian sekitar 2.000 tahun lalu ketika Bayi Yesus tidak mendapat tempat di penginapan seperti terulang lagi kini dalam bentuk yang berbeda. Bagi saya, yang dipekerjakan Tuhan di divisi kesejahteraan umum, krisis hutang di Eropa mengindikasikan bahwa sebagian umat manusia tidak memberi tempat bagi Kristus.

Menerima Yesus berarti menerima ajaran-Nya. Saya dengan aneka pengalaman dan pergulatan menemukan bahwa sebagian dari kita tidak memberi tempat di hati kita bagi tumbuh dan bersemayamnya ajaran Kristus yang berkaitan dengan kesejahteraan umum.

Saya menemukan paling tidak ada tiga ajaran penting yang seharusnya mendapat tempat di hati umat manusia agar tercapai kesejahteraan umum dan keadilan sosial.

Yang pertama ajaran berbagi sebagaimana ditulis oleh Injil Lukas 12:33 "Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di sorga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat." Dari ajaran ini nampak bahwa kalau kita berbagi harta itu harus mendekati 100% dari harta kita, bukan hanya 3% atau 10%. Kalau persentase harta yang harus dibagikan mendekati 100% bagaimanakah dampak ekonomi-moneternya? Yesus Kristus tidak memberi penjelasan karena mungkin Dia tahu umat manusia akan menemukan sendiri jawabannya melalui ilmu pengetahuan. Mungkin juga Tuhan tidak memberi penjelasan waktu itu karena pengetahuan manusia waktu itu terbatas. Teori ekonomi makro biososioekonomi mencoba memberi penjelasan ilmiah bagaimana harta tersebut harus didistribusikan beserta dampak moneternya. Ketika harta yang dibagikan itu sangat kecil maka lama-kelamaan liabilitas publik melonjak dan akhirnya menimbulkan krisis. Ajaran Yesus benar.

Yang kedua adalah penyalur derma. Yesus Kristus ternyata memberi kebebasan kepada penderma bahwa penderma bebas memilih lembaga mana yang harus mendistribusikan atau mengelola derma tersebut. Hal ini tidak hanya tercermin dalam Matius 19:21 tetapi juga dalam peristiwa lain. Dalam Matius 19:21 Yesus TIDAK mengatakan: bawalah ke mari supaya Saya bisa membagikannya kepada orang miskin. Kebebasan memilih penyalur sumbangan juga tercermin dari sikap Yesus yang tidak mau dijadikan Raja dalam pemahaman sebagian umat Yahudi seperti tertulis dalam Yohanes 6:15 "Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri". Yesus juga menolak godaan Iblis seperti tertulis dalam Matius 4:8-10.  Dengan menolak dijadikan raja dalam pemikiran sebagian manusia berarti Yesus juga memberi kebebasan penderma memilih saluran dermanya. Pada waktu itu menjadi raja berarti menerima pembayaran pajak. Sebagai gambaran penghasilan Raja Salomo per tahun adalah 666 talenta emas, jumlah itu kalau dirupiahkan lebih dari Rp 6,6 triliun. Di dalam negara demokrasi modern yang berorientasi kesejahteraan pajak  terdistribusi untuk kesejahteraan rakyat. Ini berbeda dengan kerajaan feodal. Jadi menyalurkan sumbangan sebagai pajak negara demokrasi modern bisa berarti menuruti kehendak Tuhan.

Yang ketiga Yesus meringankan beban banyak orang meski Ia sendiri menanggung beban berat. Yesus meminta murid-murid-Nya memberi makan sesama meski Ia menolak godaan Iblis untuk mengubah batu menjadi roti.

Maka menurut hemat saya, yang dipekerjakan Tuhan di divisi kesejahteraan umum, menerima Yesus berarti ikut berjuang mewujudkan kesejahteraan umum. Kalau Eropa dan AS dilanda krisis berarti sebagian umat manusia tidak sepenuhnya memahami atau menerima ajaran Yesus di atas. Bidang kesejahteraan umum menuntut partisipasi kita semua, termasuk untuk menerjemahkan artikel ini dan menyebarkan kepada orang lain. 

Semoga kehadiran Tuhan menguatkan kita untuk berbagi dan mewujudkan kesejahteraan umum dan semoga kesukaan Natal dirasakan semua orang termasuk yang paling miskin. Selamat Natal 25 Desember 2011. Semoga kita semua hidup dalam damai sejahtera dan dalam terang Tuhan.